X-Dolly: Modernitas yang Menghanyutkan #4

X-Dolly: Modernitas yang Menghanyutkan

Karena keterbatasan waktu, perjalanan di Kamal dan desa batik gentong pun selesai di siang dan sore hari itu. Perjalanan kemudian dilanjutkan ke Surabaya. Perjalanan lanjutan ini menurutku sangat ekstrem, itulah fantasi yang tergambar di dalam pikiranku. Tempat yang akan menjadi lokasi ketiga KKL adalah Gang Dolly. Kalian pasti tidak asing dengan nama gang inikan? Gang Dolly dahulunya merupakan tempat prostitusi yang terkenal di Indonesia. Tempatnya mirip seperti SARKEM (pasar kembang) di Yogyakarta. Awalnya saya sangat takut dan deg-degan terus, karena terbayang di dalam pikiranku bahwa kami harus mewawancarai “mereka”. Hal ini jelas saja banyak hal yang terbayang di pikiranku saat di sana nantinya. Kunjungan ini merupakan pertama kalinya saya ke Gang Dolly, yang dahulunya hanya saya dengar-dengar dari berbagai media pers tulis ataupun elektronika.
Selama perjalanan kami istirahat dan rasanya ingin mandi, tetapi mandi sore harus dipendding dulu hingga sampai di Dolly. Namun kami kemalaman sampai di X-Dolly. Kami tidak langsung sampai di sana karena bus tidak bisa masuk. Kami pun berhenti di Islamic Center, dan harus jalan sekitar 30 menit untuk sampai di X-Dolly. Selama perjalanan saya merasa khawatir tentang banyak hal, bayang-bayang aneh di pikiranku sudah menyelimuti. Namun ternyata setelah sampai di sana tidak begitu menyeramkan seperti perkiraanku sebelumnya. Malam itu kami akan menginap di rumah warga sekitaran Gang Dolly. Setelah pihak biro membagi-bagi kami dalam beberapa kelompok, akhirnya saya, Sarna, Anisa dan Novia satu kelompok yang akan menginap di rumah salah satu warga. Kami menuju pemilik rumah yang kami tumpangi yang tidak jauh dari balai desa hanya selisih 3 rumah saja.
Setelah bersih-bersih, kami diberi sajian makan malam. Setelah itulah kami mewawancari pemilik rumah tumpangan. Beliau merupakan pencuci baju para PSK di gang dolly dahulunya. Beliau telah lama bekerja di sana hingga bertahun-tahun. Setelah penutupan Gang Dolly, beliau juga tetap membuka laundry. Menurutnnya lebih mudah saat bekerja menjadi tukang cuci PSK Gang Dolly. Saat itu, ia tidak perlu jauh-jauh mengambil pakaian seperti saat ini. Sekarang ia harus berjalan jauh untuk mengambil pakaian mahasiswa di kos mereka masing-masing. Mesin cuci yang dipakai saat ini adalah mesin cuci pembagian dari pemerintah Surabaya sebagai balasan dalam program penutupan gang Dolly yang menghilangkan banyak pekerjaan masyarakat sekitar.
Gang Dolly memang menjadi saksi bisu berbagai kegiatan yang ada di sana. Walaupun disebut sebagai tempat maksiat, namun di sisi lain Gang Dolly telah menjadi tempat penghidupan banyak orang untuk mencari sesuap nasi. Gang Dolly sendiri berdiri sejak kolonial belanda, yang didirikan oleh Nyonya Dolly.  Tempat ini dalam perkembangannya telah membuat banyak kontroversi bagi masyarakat Indonesia di zaman kini. Sejarah Gang Dolly telah banyak tercatat dalam tulisan baik berupa penelitian, berita ataupun blog. Mami Dolly sebutannya yang berasal dari keturunan Belanda membuat sejarah panjang untuk hidupnya sendiri. Bahkan untuk saat ini namanya masih dikenal, namun sayangnya ia menjadi sangat kontroversial dalam berbagai sudut pandangnya.
Malam semakin lelap, begitupun dengan rasa was-was yang selalu menyelimuti pikiran dan hati kami. Kami memutuskan untuk mengakhiri wawancara, selain karena waktu yang menunjukkan hampir pukul 12 malam, juga merasa tidak enak dengan pemilik rumah yang terganggu waktu istirahatnya. Saya akhirnya bisa merasakan tidur dengan badan lurus. Setelah beristirahat semalaman, kami pun keluar rumah sekitar pukul 6.30 pagi untuk melihat keadaan Gang Dolly di masa sekarang. Jarak Gang Dolly dengan rumah yang ditumpangi ternyata sangat dekat, hanya sekitar 20 meter saja. Hal yang lucu adalah seakan-akan di daerah itu adalah rombongan kami semua. Setiap kali saya lewat pasti akan mendapat teman-teman lainnya. Lucu saja harusnya kami mendapatkan banyak anggota masyarakat yang ada di sekitar gang Dolly, dan bukan teman-teman sendiri berkeliaran ke sana kemari.
Saya sendiri tidak begitu banyak bertanya kepada penduduk sekitar, karena banyak hal sensitif  yang bisa saja menyinggung mereka. Saya lebih memilih untuk melihat-lihat saja kondisi Gang Dolly pasca penutupan. Bangunan-bangunan disana telah banyak yang beralih menjadi kos-kosan yang disewakan para pemiliknya. Ada pula bangunan yang dibeli oleh pemerintah seperti gedung Barbara yang merupakan wisma yang sangat besar dan terkenal di Gang Dolly. Wisma tersebut seperti koperasi untuk masyarakat. Saya belum bisa memastikan proses pengelolaan koperasi itu untuk masyarakat di sekitar gang Dolly. Masih banyak hal lagi yang sebenarnya ingin saya pastikan kebenarannya. Namun, karena waktu yang begitu singkat, yaitu pukul 8.00 pagi kami harus segera meninggalkan Gang Dolly menuju Blora, maka rasa penasaran itu pun harus tertahan di waktu yang akan datang.
Sebelum meninggalkan gang Dolly, saya menyempatkan diri untuk berfoto. Terlihat juga ada grafiti yang cukup menarik. Dalam grafiti itu bertuliskan kampung wisata penuh derita. Derita apa yang maksud dalam tulisan itu dalam hal ini sangat luas. Namun saya beranggapan bahwa derita yang ditujukan ini adalah derita pasca penutupan yang dirasakan masyarakat sekitar, mereka telah kehilangan mata pencariannya. Bahkan mereka sangat sulit untuk mendapatkan pundi-pundi uang saat ini. Salah satu warga yang merupakan mantan kasir wisma Barbara, mengatakan bahwa menjual 1 kilo gula pun sangat susah sekarang ini. Penutupan Dolly rupanya telah mengisahkan banyak problema di segala sisi. Secara sosial ekonomi memang ada perubahan, tetapi perubahan yang menyurut pada sebuah dinamika yang terbatas. Akhirnya, gang Dolly hampir sama dengan Desa Kamal. Keduanya memiliki kesamaan pada penyebutan sebagai “kota mati”. Kedua lokasi ini dahulu sama-sama sangat ramai dikunjungi dan dipenuhi dengan berbagai aktivitas sosial ekonomi, dan sekarang menjadi surut seolah enggan hidup, mati pun tak mau.
Sebenarnya saya masih sangat penasaran bagaimana sih rupanya mami Dolly itu. Rasa penasaran itu terjawab setelah seorang teman memberikan foto mami Dolly. Ia rupanya mendapatkan foto tersebut di museum gang Dolly. Sontak saja hal itu membuat saya tertarik untuk segera pergi ke museum gang Dolly. Saya meminta kepada ibu Aris sebagai pendamping dan sekaligus dosen kami untuk melihat museum tersebut. Beliau pun bersedia. Sayangnya, keinginan tersebut ada pada detik-detik keberangkatan selanjutnya ke Blora, khususnya ketika menunggu angkutan yang disediakan pihak biro itu datang. Kami berlarian menuju museum. Saya pun mengajak ketua panitia agar merasa aman kalau ada apa-apa. hehehee. Di tengah perjalanan kami bertemu dengan teman-teman laki-laki lainnya. Saya dan Sarna mengajaknya ke museum itu. Sesampai di museum itu, hal pertama yang ditemui adalah banner yang berisi pernyataan warga yang menyatakan bahwa Dolly bukan lagi tempat portitusi.
Sebelum naik ke lantai 2, terlihatlah foto Mami Dolly dan foto-foto lainnya. Saya menaiki satu persatu anak tangga dengan cepat, karena tidak sabar melihat bagaimana sih Dolly yang dulu. Ibu RT tersebut memperlihatkan kami spanduk Dolly yang dahulu. Di spanduk itu, ada hal menarik yaitu tulisan tempat duduk khusus wanita. Kata ibu RT, bahwa di setiap wisma atau tempat karaoke akan selalu ada tulisan tersebut. Akhirnya saya paham bahwa wisma-wisma yang didepan dipasangkan cermin seperti aquarium (mohon maaf) ternyata untuk melihat-melihat wanita yang duduk di kursi tadi. Setelah itu saya beralih ke foto keluarga Mami Dolly dan melihat lainnya sambil berfoto-foto. Setelah selesai kami pun menuju ke tangga untuk turun. Saat itulah, ada hal yang menarik, yaitu foto makam mami Dolly di Malang. Setalah itu Ibu RT bercerita banyak sambil menuruni tangga. Kami pun berterima kasih kepada Ibu RT yang bersedia menemani kami ke museum gang Dolly.

Kami kembali ke titik kumpul, dan hampir seluruh teman perempuan telah berangkat terlebih dahulu. Saat itulah, angkotnya pun juga tiba, jadi kami tidak begitu menunggu lama. Setelah naik angkot sekitar 10 menit kami sampai di Islamic Center, terlihat bus kami sudah terparkir di sana. Saya pun menaruh koper ke dalam bagasi bus dan naik ke atas bus. Sebelum sampai di kursi saya, di belakang kami banyak berbagi cerita. Cerita paling seru adalah ketika Rama ditarik oleh ibu-ibu dan ditanya mas mau cari cewek? Kemudian Rama membalas dengan senyum yang meringis ke arah ibu itu, dan mengatakan tidak bu saya mau ke mesjid. Hahaha...., coba kalian bayangkan saja sendiri, jika kalian diajak seperti Rama lalu kalian menimpalinya dengan jawab ingin ke mesjid, saya tidak bisa membayangkan wajah ibu itu ketika mendengar jawaban Rama. Menurutku, itu sangat menarik, Rena menambahkan: “iya, tadi malam pun saat di Gang Dolly terlihat anak yang sedang menunggui Ayahnya yang minum, kemudian membersihkan botol-botol minuman Ayahnya, dan kami banyak menduga saja tetapi kami belum terlalu yakin dengan hal tersebut. Saya pun menambahkan bahwa ketika ada pelanggan, maka mereka akan mencarikannya. Mereka tidak melakukan hal tersebut di Dolly, tetapi mereka akan keluar dan mencari tempat lain.

Bersambung... (episode selanjutnya adalah "Kampung Samin: Modernitas yang Dibungkus Tradisionalitas Hidup" kalian masih penasarankan tentang cerita selanjutnya? Tentu sudah sangat penasaran bagaimana reaksi Rama dan teman laki-laki lainnya ketika ditawari hal demikian, tentu juga reaksi ibu tadi yang menawari pun akan semakin membuat pembaca ingin mengetahui lebih lanjut. Bukan hanya X-Dolly saja yang mengisahkan hal unik, tetapi kisah tentang orang Saminpun akan lebih menarik, selamat membuka dunia dengan membaca)

Dokumentasi Pribadi

X-Dolly kini menjadi sejarah panjang bagi warga sekitar, walaupun Gang Dolly telah dibubarkan 4 tahun lalu. Tetapi Gang Dolly masih dikenang warga, dengan pemberian nama kecil pada papan Gang tersebut.

Pada grafiti di atas ada hal yang sangat menarik yaitu tulisan "Kampung Wisata Penuh Derita" derita apa yang dimaksud tulisan itu dalam hal ini sangat luas, sesuai bagaimana setiap individu memaknai tulisan itu

Tempat karaoke yang dahulunya memiliki berbagai kisah, kini hanya menjadi lahan parkir kendaraan masyarakat.

Menutup Luka Lama: Bangunan lama yang akan direnovasi oleh pemiliknya


Salah satu bangunan yang beralih menjadi kos-kosan yang disewakan para pemiliknya

Teks dekralasi pasca penutupan lokalisasi prostitusi Dolly dan Jabak

Wajah Mami Dolly

Makam Mami Dolly


Komentar