Memulai Rihlah Penuh Fantasi #1

Tumbuh Menolak Zaman
Adhis Tessa
NIM. 16413244014
Jurusan Pendidikan Sosiologi, Fakultas Sosiologi UNY



Memulai Rihlah Penuh Fantasi
Kuliah Kerja Lapangan (KKL) semester ini, telah membuatku selalu menanti hadirnya. Sebagai orang yang lahir bukan di tanah Jawa, maka perjalanan KKL ini tentu akan sangat berbeda. Selain hendak merasakan sensasi perjalanan mengelilingi tanah Jawa, hal kunanti adalah kesan-kesan mendalam dari empat wilayah teramati yang kukunjungi bersama. Waktu KKL telah ditetapkan, seluruh persiapan “jiwa dan raga” pun kuhadirkan bersama untuk menikmati kegembiraan di satu sisi, tetapi di sisi lain keseriusan dari sebuah “life story” akan kukisahkan. Fantasi-fantasi antara kebaikan dan keburukan, antara kesukacitaan dan kedukaan, antara kegembiraan dan kepenatan, dan antara modernitas dan tradisionalisme dari kelompok-kelompok masyarakat dan arkade peradaban seperti jembatan Suramadu dan kuil Sam Pho Kong yang dikunjungi muncul berkecambah dalam benak. Masing-masing memiliki “jiwa zamannya” dan tugas ku adalah masuk dan merasakan “jiwa zaman” sebagaimana yang komunitas pelaku di dalamnya membangun sistem sosial dan makna atasnya.
Sebagai sebuah kegiatan kampus, maka mulailah sensasi ini dari dunia kampusku sendiri. Titik kumpul KKL berada di depan rektorat tepatnya arah pintu masuk Rektorat UNY. Saya sampai di lokasi tersebut setelah sholat magrib. Di dekat bis terlihat begitu ramai orang berlalu lalang. Ada sibuk yang berurusan dengan persiapan perjalanan, ada pula yang sibuk mencari teman sebangku duduknya, tetapi ada juga yang “malu-malu kucing” berpisah sementara dengan pacar yang mengantarnya. Padahal barang-barang bawaan mereka masih berserakan di sekitar bus, seolah tiada peduli harus ditempatkan di mana. Mungkin ini salah satu tanda “Anak Zaman Now”, lebih peduli “pamitan dengan kakak tingkat” yang ikut membersamai mereka, daripada mengurus barang-barangnya sendiri. Beberapa dari temanku di berikan bingkisan.
Melihat kenyataan di atas, dalam hati juga ingin (wkwkwkwk, tapi sayangnya bukan anak Hima dan tidak begitu kenal dengan mereka), teman-teman yang akrab saja yang dikasih. Eh maaf jadi baper deh. Lanjut..  Saya juga tidak mau ketinggalan, maka sebelum berangkat saya berfoto dengan temanku. Kemudian foto tadi saya kirimkan ke seseorang yang spesial melalui pesan WhatsApp (Ciieee punya yang spesial juga nih). Agar kalian santai membaca tulisan ini, makanya akan ada sedikit intermesso untuk menghilangkan kesan melelahkan dari tulisan maraton ini. Setelah berfoto tadi, tiba-tiba salah seorang (mungkin dari pihak panitia) mengatakan bahwa bus di depan adalah Bus kelas A dan di bus yang terparkir di belakang adalah Bus Kelas B. Pikirku, kok bisa hal sederhana seperti ini saja diumumkan belakangan. Kalau tidak mau diumumkan setelah orang cari tempat duduk, sebenarnya bisa dibuat dan tulis Bus Kelas A atau Kelas B, lalu tempelkan di depan dan samping kaca bus itu. Bagaimana mau profesional, hal sepele seperti ini saja sudah dilupakan panitia (tepuk jidat deh).
Sontak saja beberapa teman-teman dari kelas A berhamburan ke atas bus untuk mengambil barang-barang mereka yang menjadi penanda tempat duduk. Kalau kata kerennya sih ngebooking tempat duduk. Selain itu, sekaligus booking teman untuk yang duduk di sebelahnya. Sekitar 2 hari sebelum keberangkatan ke Lokasi KKL, Vv menghubungiku untuk ngajak sebangku (senang sekali ada yang ajak). Terima kasih Vv sudah mau mengajak sebangku denganku. Saat teman-teman berhamburan ke atas bus, saya sendiri bertanya-tanya. Ngapain mereka? Bukannya belum berangkat, kenapa semuanya naik ke atas bus dan seolah-olah sedang rebutan sesuatu, tanyaku sambil monolog dengan diri sendiri. Teman di sampingku seolah menjawab dari rasa bingungku, “mereka lagi booking tempat duduk Dhis”. Ooh gitu ya, jawabku singkat. Selang 5 sampai 10 menit, saya melihat dari bawah, mereka berupaya membooking tempat duduk sesuai keinginannya. Saya pun mulai beranjak naik, sambil memberi kabar ke keluarga bahwa saya sudah sampai di titik kumpul dan akan segera berangkat. Saya pun naik ke atas Bus, dan saya hanya mendapatkan tempat duduk di belakang dekat dengan tempat duduk laki-laki. Jarak dengan mereka lumayan jauh, dan ada pula pemisahnya, yaitu berupa pintu. Rupanya, tempat duduk laki-laki itu adalah tempat khusus merokok, walaupun teman-teman laki-laki itu sendiri tidak ada yang merokok.
Pihak biro perjalanan pun memberikan breafing kepada seluruh peserta KKL. Menurut mereka, kami diberikan kesempatan untuk ke toilet, karena katanya bus hanya akan berhenti 3 jam sekali dalam setiap perjalanan. Setelah Isya pun kami berangkat. Di dalam bus, beberapa arahan disampaikan lagi oleh pihak biro. Sebelumnya kami tidak lupa berdoa terlebih dahulu. Setelah berdoa, makanan ringan di dalam kotak yang terdiri air mineral gelas dan beberapa macam jenis kue pun dibagikan ke seluruh peserta. Beberapa teman memutuskan untuk memakan sebagian kue, sedangkan aku memilih tidur saja dulu. Kami menuju arah Solo untuk menuju Madura. Semangat teman-teman masih full. Waktu-waktu awal perjalanan mereka berkarokean, sedangkan saya masih menyusuaikan diri dengan keadaan yang ribut. Karena saat itu, kondisi perasaanku sedang tidak mood dan rasanya males, hmmm mungkin jauh dari si dia ya.. hayo siapa.. ckckckck. Perasaan tidak mood telah menghambat diriku untuk berinteraksi dengan yang lainnya. Saya pun malas untuk berinteraksi berlebihan dengan mereka, dan akhirnya tertidur sepanjang perjalanan itu.
Saat masih berada di sekitar daerah Jogja, suasana di dalam bus masih heboh. Namun, setelah melalui Prambanan menuju Klaten dan Solo, satu persatu yang ramai tadi mulai terdiam. Beberapa di antaranya masih karokean. Rupanya, satu per satu teman itu mulai terbenam dalam mimpi-mimpinya. Hampir semuanya memakai bantal kepala dengan berbagai model dan warna. Saya juga tidak mau ketinggalan. Demi kenyamanan saya sepanjang jalan, maka saya juga membawa bantal. Bantal itu bukan model bantal leher, hanya bantal kecil saja yang menurutku akan lebih simpel dan bisa untuk tiduran kepala di mana pun nantinya, baik saat berada di rumah warga Dolly ataupun di rumah warga Samin nantinya. Satu persatu mulai tertimpa rasa kantuk dan akhirnya tertidur. Saya mungkin lebih dahulu tertidur daripada mereka sepertinya. Saya sendiri tidak begitu mempedulikan suara teman-teman yang sedang bersemangat malam itu. Kupikir jalan terbaik adalah tidur, selain untuk menjaga stamina selama perjalanan, juga untuk menetralkan rasa moodku dan rasa lainnya.
Setelah tertidur sekian menit bahkan berjam-jam, mungkin antara 2 atau 3 jam, saya pun terbangun. Sementara yang lain masih tertidur. Saat itu ada perasaan untuk buang air kecilpun menimpaku. Saya terus saja melihat jam kapan saatnya Bus ini akan berhenti untuk istirahat sebentar. Saya sudah tidak tahan dengan pertanyaan dengan diri sendiri. Akhirnya saya bertanya kepada teman saya, tetapi katanya masih sisa 1 jam atau 2 jam lagi. Astaga.. saya harus menunggu selama itu, sambil menghela nafas dalam-dalam. Saat itu, saya merasa masih bisa untuk menahannya, sehingga memutuskan untuk menunggu Bus ini untuk berhenti. Namun, setelah 15 atau 25 menit saya menunggu, saya sudah tidak tahan lagi. Saya pun memutuskan ke bagian dekat supir dan duduk di kursi yang masih kosong. Beberapa teman yang terbangun juga rupanya memiliki perasaan yang sama. Mereka berusaha “membunuh waktu bersama” untuk menahan diri dari buang air kecil. Setelah saya terlebih tidak begitu tahan lagi.
Saya pun memutuskan untuk memberitahu pihak biro dan supir melalui candaan “jika bis ini tidak berhenti, maka kami akan buang air kecil bersama di dalam bus ini”. Sayangnya, pak supir tidak menghiraukan candaan itu. Beberapa kali bus ini melewati tempat pengisian bahan bakar Pertamina, di mana umumnya mereka menyediakan toilet dalam jumlah yang cukup banyak. Kejadian ini benar-benar menguji kesabaran, dengan asumsi bahwa bus ini tidak berhenti karena tempat Pertaminanya kecil. Sambil mengelus dadaku, selalu menyakinkan diri untuk sabar...sabar..dan sabar. Akhirnya, bus ini pun berhenti di salah satu Pengisian BBM Pertamina. Sepertinya yang duluan turun adalah saya, dan diikuti oleh beberapa teman tadi. Setelah saya keluar dari toilet, ternyata antrian yang ada begitu panjang. Kami pun menceritakan ke teman lainnya bahwa kami bercanda ingin buang air kecil bersama di dalam bus, jika bus ini tidak segera tidak berhenti juga.
Setelah keluar dari toilet, ada hal aneh lagi. Sudah tengah malam begini pun masih ada yang jaga toilet umum. Tapi menurutku itu biasa saja, tapi yang aneh ketika kita ingin membayar uangnya harus disetor ke bapak itu. Menurutku bapak itu reseh, karena uangnya harus disetor ke dia, padahal di sana ada kotak khusus untuk menyimpan uang. Rupanya, lubang pada kotak itu ditutup. Saya kira hal ini menjadi lucu dan penuh dengan motif tertentu. Saya ingin uang kami masuk ke dalam kotak itu, bapaknya malah marah-marah. Saya tanya kenapa, dia menjawab bahwa banyak orang yang memasukkan uang tidak sesuai jumlah yang ditetapkan. Padahal di sekitar toilet juga tidak ada tertera tulisan jumlah nominal uang yang harus diserahkan pengguna jasa ketika masuk ke toilet tersebut. Melihat hal itu saya malas untuk berdebat lebih lanjut. Saya dan teman-teman mengalah. Ternyata setelah saya mencari-cari di internet banyak warga yang resah akibat sikap penjaga toilet yang terkesan memaksa dan memberlakukan toilet pertamina berbayar. Hal yang sama pun terjadi kepada teman-teman bahwa sikap penjaga yang terkesan memaksa membuat kami tidak nyaman.
Sekarang kita lupakan masalah bapak yang menjaga toilet di atas. Kita kembali ke perasaanku yang tadi rasanya seperti cinta yang dipendam lama kemudian mencoba untuk mengungkapkan. Mungkin rasanya seperti itu ya. Hehehe.. akhirnya lega dan tidak ada yang perlu ditahan lagi. Karena takut buang air kecil terus menerus lebih baik sedikit minum sajalah (pikirku sebagai strategi saja). Mungkin ini tips juga buat teman-teman saat berada dalam berjalanan. Minum saja secukupnya ya, tetapi jangan sampai dehidrasi juga ya! Akhirnya, saya bisa dengan nyaman melanjutkan untuk tidur lagi dan perjalanan busnya pun dilanjutkan kembali. Karena kondisi kursi yang sempit, berbagai upaya dan posisi agar nyaman pun dibuat. Tanpa sadar, saya pun tertidur lama dan bangun sekitar jam 12 malam.
Saya terbangun karena busnya mulai berjalan secara perlahan. Ternyata macet karena perbaikan jalan. Vv pun mulai terbangun dan mengatakan bahwa ini mungkin akibat perbaikan jalan sehingga kendaraan yang lewat dilakukan secara bergilir. Septi yang berada di sebelahku juga terbangun kemudian bertanya ada apa? Kemudian Vv menimpalinya bahwa sedang ada macet. Mungkin Septi setengah sadar dan tidak begitu mendengar ucapan Vv. Septi mengulangi Haaa mancing. Sontak saja saya dan Vv tertawa. Septipun kembali tertidur seolah tidak peduli.
Pandangan saya beralih ke arah jendela yang berembun. Dari balik jendela itu, terlihat langit gelap yang dihiasi bintang-bintang yang bercahaya. Suasana malam itu membuat moodku kembali dan bersemangat melakukan perjalanan KKL ini. Rumah-rumah warga yang berada di pinggir jalan seolah menemani perjalanan, dan sesekali sawah dan sesekali kebun juga ikut membersamai dalam perjalanan kami. Saya semakin tertarik melihat rumah-rumah pedesaan Jawa. Pertama, saya jarang menemui adanya pagar bertengger di depan rumah mereka. Hal ini mungkin menandakan bahwa warga Pedesaan Jawa percaya dengan lingkungan sekitarnya. Selain itu, rumah di pedesaan Jawa identik dengan rumah batu, sedangkan di Bugis sendiri (khususnya kamupung saya) diberi pagar tinggi atau diberi pagar hidup ataupun pagar dari bambu saja. Saya pun akhirnya berpikir tentang tingkah laku masyarakat di kampung Bugis saya. Kebiasaan mereka mungkin disebabkan (i) Pagar sebagai penghalang masuknya hewan liar, karena biasanya di kampung (Malimpung) saya masih tergolong banyak babi hutan yang sering nyasar, (tapi kalau kamu yang nyasar ke hatiku gak papa sih.. hehehe..); (ii) selain itu sebagai ajang pamer karena biasanya pagar yang dibangun adalah pagar tinggi dan didesain mewah; dan (iii) sebagai bentuk pengamanan untuk menghalangi para pencuri masuk ke rumah.
Kedua, bentuk rumah masyarakat Jawa sangat berbeda dengan pedesaan di Sulawesi, baik dari posisi rumah ataupun bentuk rumahnya. Rumah Bugis biasanya identik dengan rumah panggung. Ketiga, beberapa rumah dengan rumah lainnya tidak ada batas, mungkin rumah-rumah tersebut satu trah atau kerabat dekat. Keadaan ini sangat berbeda di kampung saya, karena saya sangat sulit menemukan rumah-rumah dibangun berdekatan sekali dengan lingkungan trahnya. Biasanya akan ada jarak saling berjauhan untuk memisahkannya. Tanah yang luas di sekitar rumah itu biasanya dipakai untuk menjemur padi, sehingga membuat mereka saling menjauh membangun rumah atau karena alasan lainnya.
Bagi beberapa orang melihat keadaan ini adalah hal biasa, tetapi menurutku hal itu sangat menarik. Bentuk pemukiman pedesaan dapat menjadi bahan yang sangat menarik untuk dibahas, karena biasanya akan terlihat relasi sosial, stratifikasi sosial dan lain-lainya. Pada malam yang bersahaja itu melukiskan banyak cerita di alam fikirku. Langit malam sepertinya pun begitu tenang menjaga rumah-rumah mereka yang sederhana. Cahaya bulan yang tersembunyi di balik awan malam, menembus dibalik jendela bus yang berembun, setia menemani perjalanan kami. Malam itu sepertinya aku tidak ingin tertidur kembali karena suasana begitu damai dalam kesunyian malam.
Bus kami masih melaju secara perlahan menunggu antrian untuk melaju, tanpa terasa ia pun kembali melaju cepat. Cahaya bulan masih setia membersamai. Selang bersama itu, saya sedang memikirkan berbagai pertanyaan yang kusimpan dalam pikiranku. Telah banyak hal yang kupersiapkan untuk besok. Pedoman wawancarapun sudah kami buat. Sepertinya diriku tidak sabar menyongsong esok hari. Karena ini kali pertama kali saya ke Madura. Sepertinya saya kembali di mana masa kecilku, bahwa saya ingin melewati Jembatan Suramadu dikala itu, dan Berfoto di monumen surabaya (hiu dan buaya). Sayangnya berfoto di patung itu tidak ada waktu. Mungkin ada waktu yang baik untuk kembali ke sana lagi.
Lagi-lagi tanpa terasa diriku tertidur lagi. Lagi dan lagi... hingga pukul 2 atau 3 salah seorang teman alarm di HPnya berbunyi. Bunyi itu telah membangunkan beberapa dari kami dan termasuk saya. Melihat ke arah jendela, matahari pagi mulai menyapa malu-malu ke arah jendela bus yang masih berembun. Aku terbangun dengan kesadaran yang berfikir kapan bus ini akan berhenti? Untuk sholat subuh? Sambil menunggu bus berhenti, saya sesekali menatap ke luar jendela. Pemandangannya lagi-lagi menghilangkan rasa lelah perjalanan semalam. Akhirnya busnya pun berhenti, rasa pegal-pegal di badan masih sangat terasa, tetapi semua hilang ketika saya disambut udara segar pagi setelah turun dari bus. Saya pun menuju musholla di area pertamina, dan melaksanakan ibadah sholat Subuh. Selanjutnya saya berharap ada sarapan pagi (wkwkwk berharapnya seperti itu), tetapi nyatanya tidak ada, belum waktunya mungkin. Padahal saya baru meminum beberapa obat, dan untungnya saya membawa Ultra Milk (upss ini bukan ajang promosi ya!).
Setelah semua selesai bersih-bersih dan melaksanakan ibadah shalat Shubuh, semua teman pun naik kembali ke atas bis untuk melanjutkan perjalan ke Madura. Akhirnya, pemandangan yang ditunggu-tunggu pun datang. Saya segera berusaha mendokumentasikan sendiri apa yang tertulis di hadapan saya, “Jembatan SURAMADU”. Keinginanku dari tanah Bugis akhirnya tercapai di saat itu pula. Terima Kasih Ya Allah Swt. Dengan penuh semangat, saya ke depan lagi mendekati kursi pak sopir untuk mendokumentasikan secara jelas. 

Bersambung... (episode selanjutnya adalah "Membaca Pertarungan Tradisionalitas vs Modernitas di Suramadu")

Komentar