Membaca Pertarungan Tradisionalitas vs Modernitas di Suramadu
Setelah disuguhi pemandangan SURAMADU, kami pun singgah di sebuah rumah
makan. Sebelum itu, tiba-tiba ada 5 mahasiswa laki-laki naik ke atas bus. Pada
awalnya kami bingung siapa mereka, dan terus penuh tanda tanya. Hingga sampai
di Kamal, kami akhirnya tahu siapa mereka. Mereka merupakan pemandu observasi
kami. Sesampainya di rumah makan, kami pun telah disuguhi makanan dalam bentuk
prasmanan. Dalam bayanganku, kami makan di rumah makan itu akan disajikan
makanan khas Madura. Namun hal itu rupanya tidak terjadi, kami hanya diberikan
sajian ayam dan beberapa lauk lainnya. Beberapa diantara kami makan dan
beberapa diantara kami juga segera mandi. Saya memilih untuk makan terlebih
dahulu karena sudah banyak yang antri. Setelah saya selesai menyantap sarapan
pagi, saya pun ikut antri mandi. Sayangnya, antrian kamar mandi perempuan lebih
panjang. Beberapa teman perempuan akhirnya beralih ke kamar mandi di blok laki-laki.
Saya pun ikut antri di kamar mandi laki-laki karena antriannya pendek. Walaupun
menerobos ke kamar mandi laki-laki, tetapi isinya adalah perempuan semua.
Rupanya, pihak laki-laki tersingkirkan, wkwkwkwk.
Setelah mandi, beberapa diantara kami memakai make up dan
lain-lain. Sedangkan saya tidak memakai bedak sama sekali, karena posisi saya
tidak memungkinkan saya melepas jilbab untuk memakai bedak di dalam bus.
Biarkanlah wajahku apa adanya saja. Aku pun pindah ke bangku depan karena di
belakang saya tidak berada di dekat jendela. Apalagi di bangku depan juga
kosong. Jadi saya memilih pindah saja sementara. Di balik jendela ketika hampir
masuk titik lokasi penelitian, saya menghitung ada sekitar 15-an kios bengkel
yang jaraknya tidak begitu saling berdekatan. Pelabuhan Kamal sudah terlihat
dan jalan-jalan yang biasanya ramai kini begitu sepi. Bus kami telah berhenti
dan kami menuju ke balai desa. Kami berkumpul sesuai kelompok yang telah
dibagikan. Sesampainya di Kamal, kami disambut oleh hangatnya mentari dan
hembusan angin laut. Kami diberi arahan, dan pihak biro pun ikut serta
membagikan Idcard dan blocknote.
Setelah arahan, kami diberikan kesempatan untuk melakukan wawancara ke
beberapa anggota masyarakat di wilayah Kamal. Dari wawancara itulah, ada informasi
penting bahwa Kamal dahulu menjadi pintu masuk pulau Madura yang begitu ramai,
dan akibat dibangunnya jembatan SURAMADU maka Kamal saat ini kemudian
disebut-sebut sebagai “kota mati”. Selain itu, pergerakan ekonomi masyarakat
menurun, walaupun beberapa anggota masyarakat tetap bertahan dalam kondisi
tersebut. Kondisi telah menuntut mereka untuk banting stir atau mengalihkan
mata pencariannya di bidang lain. Dahulu mereka bisa menjadi penjual jasa
penyebrangan atau menjadi pemasok barang-barang dagangan ke pulau Madura. Namun
sekarang pekerjaan itu tidak ada lagi, karena orang Madura bisa mengakses
langsung wilayah Surabaya. Mereka pun harus memutar otaknya untuk mencari
nafkah demi kehidupan keluarganya.
Pak Mandar (nama responden saya samarkan) misalnya, ia dahulu
adalah seorang supir angkutan umum dimana penumpangnnya selalu ramai. Namun
saat ini Kamal seakan menjadi kota mati sehingga penumpangnya sepi. Pak Mandar yang sejak muda menjadi
seorang supir, kini beralih menjadi pengangkut kayu bakar. Kayu yang
diangkutnya didapat dari laut. Ia harus menggunakan perahu untuk mengambil
kayu-kayu itu. Perahu yang digunakannya pun sederhana hanya berupa perahu bekas
yang dibelinya dengan harga Rp. 1 Juta. Dari hasil pengamatan, memang banyak
warga Kamal yang beralih menjadi pencari kayu bakar. Tidak hanya Pak Mandar
yang beralih profesi, ibu Saimah pun mengalami hal serupa. Ia dahulu merupakan
pedagang asongan di pelabuhan Kamal, namun saat ini ia hanya menjadi ibu rumah
tangga dan sesekali hanya menjadi pencuci pakaian jika ada pesanan.
Banyak pandangan berbeda tentang pembangunan jembatan SURAMADU ini. Di satu
sisi mereka mengakui adanya dampak positif dengan sudut pandang yang
berbeda-beda. Bagi Pak
Mandar, dia bersyukur menjadi pencari kayu bakar setelah jembatan Suaramadu
ini ada. Ia mengakui bahwa hasil yang diperolehnya cukup besar dan bisa lebih
banyak memiliki waktu santai, ketimbang saat Kamal dahulu sangat ramai. Hal
senanda juga diungkapkan oleh Ibu Saimah yang kini menjadi ibu rumah tangga
biasa saja. Ia mengatakan bahwa kini dirinya lebih banyak waktu untuk
keluarganya dan bisa mengurus rumahnya, sangat jauh berbeda saat dia menjadi
pedagang asongan. Saat itu, jika pukul 5 pagi dia harus segera keluar rumah
untuk berjualan dan malam hari baru dia akan pulang ke rumahnya. Ibu ini
bersyukur bisa meluangkan waktunya lebih banyak untuk keluarganya saat ini.
Gambaran perubahan masyarakat baik dari segi sosial dan ekonominya pun
sangat terlihat. Ibu Saimah mengatakan bahwa saat ini mereka bisa bertegur sapa
bahkan saling bercengkrama dengan yang lainnya. Walaupun dalam segi ekonomi
mereka mengalami penurunan seperti yang diungkapkan pula oleh Ibu Juminten.
Dahulunya ia menjual ikan di Pelabuhan, dan dari hasil penjualannya dalam
sehari ia mampu menghasilkan Rp. 500 ribu sampai 1 juta rupiah. Hal ini sangat
jauh berbeda dengan saat ini, di mana Ibu Juminten tidak lagi menjual ikan.
Pelabuhan Kamal kini sangat sepi, bahkan untuk mendapatkan uang Rp. 200 ribu
saja sangat sulit.
Kehidupan masyarakat Kamal penuh dengan dinamika sosial. Para pendatang
yang biasanya membuat ramai desa Kamal, kini mereka juga ikut berpindah ke
tempat lain. Menurut pendamping desa, para pendatanglah yang membuat ramai desa
tersebut. Ia menyebutkan bahwa hampir 90% masyarakat Kamal adalah pendatang,
sedangkan sisanya adalah warga asli. Pemukiman para pendatang yang masih
bertahan dan tidak pergi akibat pembangunan jembatan SURAMADU sangat terlihat
jelas. Para pendatang rata-rata tinggal dan bermukim di pinggir jalan
utama, sedangkan untuk masyrakat asli Kamal rata-rata berada di area
atas atau berada di dalam perkampungan.
Pemerintah Desa Kamal sendiri berusaha untuk mengembangkan potensi desa
baik dari segi masyarakat maupun lingkungan mereka. Pendamping desa tersebut
menyatakan bahwa mereka telah merencanakan desa Kamal sebagai objek wisata dan
mengembangkan potensi masyarakat di bidang kewirausahaan. Saat saya berada di
Kamal, terdengar informasi bahwa esok lusa akan diadakan semacam festival oleh
pemuda-pemuda desa. Sayangnya, kami semua tidak bisa menyaksikan secara lansung
acara tersebut. Kami berada di Kamal hanya setengah hari saja, dan harus
melanjutkan perjalanan ke Surabaya.
Setelah mewawancarai masyarakat Kamal, kami kembali menuju Balai Desa
Kamal. Di saat itulah, kami disuguhi berbagai macam makanan (bagi anak kos ini
adalah rezeki nomplok, kapan lagi bisa makan sepuasnya) serta berbagai jenis
minuman dingin. Mereka sangat tahu sekali bahwa kami kepanasan. Saya mau
berbagi sedikit deh makanan dan minuman apa yang disuguhkan mereka, tapi tidak
semua ya, soalnya kalau menjelaskan makanan nanti blog ini tidak membahas
diaryku lagi tetapi hanya akan menjadi tulisan review makanan ckckckc. Makanan
yang disuguhkan itu adalah nasi jagung. Nasi ini di masa lalu merupakan makanan
khas Desa Kamal. Nasi tersebut diiringi dengan beberapa lauk-pauk yang banyak.
Sementara untuk minumannya, ada 2 jenis, pertama sirup rasa jeruk, terus yang
kedua ini nih yang rasanya pertama kali saya coba, yaitu cincau dengan air yang
rasanya seperti jahe. Mungkin itu adalah minuman jahe yang khas ala Madura.
Jadi rasa minumannya itu hangat-hangat dingin gitu, karena berasal dari jahe
dan es batu kemudian ditambah lagi aroma cincau rasanya sangat segar.
Setelah menikmati minuman, kami pun kembali berkumpul untuk mendengarkan
cerita kepala desa. Ia menguraikan sejarah awalnya desa Kamal, mulai dari
ramainya Kamal sebelum adanya jembatan Suramadu, hingga saat ini yang dia sebut
sebagai kota mati. Kepala Desa Kamal pun sangat berharap mahasiswa saat ini
bisa memberikan sumbangsih yang bermanfaat bagi mereka, dan dapat menghidupkan
kembali Desa Kamal seperti dahulu. Setelah arahan, kami pun memberikan
kenang-kenangan untuk Desa Kamal. Setelah kegiatan tersebut (Aaaamiiin semoga
kita sebagai mahasiswa yang selalu di sebut-sebut sebagai agen perubahan bisa
memberi manfaat untuk Bangsa dan Negara. Merdeka), lanjut ke
cerita tadi.. setelah makanan yang tersaji tadi dipersilahkan untuk disantap
sebagai makan siang. Nasi jagung beserta lauk pauknya terlihat dilahap cepat
oleh teman-teman KKL.
Sayangnya, saya tidak begitu menikmati makan siangnya, karena mungkin
terasa tidak begitu lapar saat itu. Saya pun akhirnya memilih untuk
mewawancarai Kepala desa dan Bapak yang mendampingi pengelolaan dana desa.
Namun sebelum wawancara itu, saya tetap diminta oleh kedua bapak tersebut untuk
tetap makan. Saya pun makan walaupun sedikit saja. Setelah semua aktivitas itu
selesai, kami pun sholat Dhuhur dan pamitan untuk melanjutkan perjalanan. Entah
karena apa, sebelum berangkat saya merasa perut saya sedikit mual. Saya pun
memutuskan untuk memuntahkan makanan, karena khawatir akan muntah di dalam bus.
Kami semua naik ke bus dan mengecek siapa yang belum naik, takutnya ada yang
ketinggalan kan gak lucu kalau ada yang ketinggalan, hehehehe.
Di Kamal inilah saya mendapatkan kesan kuat bagaimana mereka tetap bertahan
pada situasi kehidupan tradisional ditengah hantaman modernitas. Jembatan
Suramadu itu menjadi simbol modernitas yang membuka peradaban orang Madura yang
dahulu dikenal sangat “kolot” dan kuno. Dahulu, mereka hanya memilih mata
pencarian yang bersifat tradisional, seperti nelayan, petani, pemberi jasa
angkutan perahu, pedagang kecil-kecilan, dan sebagainya. Pekerjaan tersebut
akhirnya harus tergusur seiring pembangunan jembatan Suramadu. Bagi mereka yang
siap menghadapi modernitas, maka mereka segera mengalihkan mata pencariannya
yang berkesesuaian dengan kondisi tersebut. Namun, bagi mereka yang tidak siap,
maka mereka akan tetap bertahan pada mata pencaharian dahulu, yang nyata-nyatanya
tidak memberikan jaminan ekonomi yang cukup kuat bagi diri dan keluarganya.
Akhirnya, jembatan Suramadu dapat dikatakan sebagai simbol kemenangan
modernitas ditengah kehidupan tradisional orang Madura, khususnya mereka yang
berada di wilayah Kamal.
Dokumentasi Pribadi
Bersambung... (episode selanjutnya adalah "Relasi Sosial dibalik Proses Batik Gentong")
Dokumentasi Pribadi
Abis Observasi Eksis Dulu Daaahh..
Kamal yang kini diluput rasa dilema


Komentar
Posting Komentar