Membaca Pertarungan Tradisionalitas vs Modernitas di Suramadu #2




Membaca Pertarungan Tradisionalitas vs Modernitas di Suramadu
Setelah disuguhi pemandangan SURAMADU, kami pun singgah di sebuah rumah makan. Sebelum itu, tiba-tiba ada 5 mahasiswa laki-laki naik ke atas bus. Pada awalnya kami bingung siapa mereka, dan terus penuh tanda tanya. Hingga sampai di Kamal, kami akhirnya tahu siapa mereka. Mereka merupakan pemandu observasi kami. Sesampainya di rumah makan, kami pun telah disuguhi makanan dalam bentuk prasmanan. Dalam bayanganku, kami makan di rumah makan itu akan disajikan makanan khas Madura. Namun hal itu rupanya tidak terjadi, kami hanya diberikan sajian ayam dan beberapa lauk lainnya. Beberapa diantara kami makan dan beberapa diantara kami juga segera mandi. Saya memilih untuk makan terlebih dahulu karena sudah banyak yang antri. Setelah saya selesai menyantap sarapan pagi, saya pun ikut antri mandi. Sayangnya, antrian kamar mandi perempuan lebih panjang. Beberapa teman perempuan akhirnya beralih ke kamar mandi di blok laki-laki. Saya pun ikut antri di kamar mandi laki-laki karena antriannya pendek. Walaupun menerobos ke kamar mandi laki-laki, tetapi isinya adalah perempuan semua. Rupanya, pihak laki-laki tersingkirkan, wkwkwkwk.
Setelah mandi, beberapa diantara kami memakai make up dan lain-lain. Sedangkan saya tidak memakai bedak sama sekali, karena posisi saya tidak memungkinkan saya melepas jilbab untuk memakai bedak di dalam bus. Biarkanlah wajahku apa adanya saja. Aku pun pindah ke bangku depan karena di belakang saya tidak berada di dekat jendela. Apalagi di bangku depan juga kosong. Jadi saya memilih pindah saja sementara. Di balik jendela ketika hampir masuk titik lokasi penelitian, saya menghitung ada sekitar 15-an kios bengkel yang jaraknya tidak begitu saling berdekatan. Pelabuhan Kamal sudah terlihat dan jalan-jalan yang biasanya ramai kini begitu sepi. Bus kami telah berhenti dan kami menuju ke balai desa. Kami berkumpul sesuai kelompok yang telah dibagikan. Sesampainya di Kamal, kami disambut oleh hangatnya mentari dan hembusan angin laut. Kami diberi arahan, dan pihak biro pun ikut serta membagikan Idcard dan blocknote.
Setelah arahan, kami diberikan kesempatan untuk melakukan wawancara ke beberapa anggota masyarakat di wilayah Kamal. Dari wawancara itulah, ada informasi penting bahwa Kamal dahulu menjadi pintu masuk pulau Madura yang begitu ramai, dan akibat dibangunnya jembatan SURAMADU maka Kamal saat ini kemudian disebut-sebut sebagai “kota mati”. Selain itu, pergerakan ekonomi masyarakat menurun, walaupun beberapa anggota masyarakat tetap bertahan dalam kondisi tersebut. Kondisi telah menuntut mereka untuk banting stir atau mengalihkan mata pencariannya di bidang lain. Dahulu mereka bisa menjadi penjual jasa penyebrangan atau menjadi pemasok barang-barang dagangan ke pulau Madura. Namun sekarang pekerjaan itu tidak ada lagi, karena orang Madura bisa mengakses langsung wilayah Surabaya. Mereka pun harus memutar otaknya untuk mencari nafkah demi kehidupan keluarganya.
Pak Mandar (nama responden saya samarkan) misalnya, ia dahulu adalah seorang supir angkutan umum dimana penumpangnnya selalu ramai. Namun saat ini Kamal seakan menjadi kota mati sehingga penumpangnya sepi. Pak Mandar yang sejak muda menjadi seorang supir, kini beralih menjadi pengangkut kayu bakar. Kayu yang diangkutnya didapat dari laut. Ia harus menggunakan perahu untuk mengambil kayu-kayu itu. Perahu yang digunakannya pun sederhana hanya berupa perahu bekas yang dibelinya dengan harga Rp. 1 Juta. Dari hasil pengamatan, memang banyak warga Kamal yang beralih menjadi pencari kayu bakar. Tidak hanya Pak Mandar yang beralih profesi, ibu Saimah pun mengalami hal serupa. Ia dahulu merupakan pedagang asongan di pelabuhan Kamal, namun saat ini ia hanya menjadi ibu rumah tangga dan sesekali hanya menjadi pencuci pakaian jika ada pesanan.
Banyak pandangan berbeda tentang pembangunan jembatan SURAMADU ini. Di satu sisi mereka mengakui adanya dampak positif dengan sudut pandang yang berbeda-beda. Bagi Pak Mandar, dia bersyukur menjadi pencari kayu bakar setelah jembatan Suaramadu ini ada. Ia mengakui bahwa hasil yang diperolehnya cukup besar dan bisa lebih banyak memiliki waktu santai, ketimbang saat Kamal dahulu sangat ramai. Hal senanda juga diungkapkan oleh Ibu Saimah yang kini menjadi ibu rumah tangga biasa saja. Ia mengatakan bahwa kini dirinya lebih banyak waktu untuk keluarganya dan bisa mengurus rumahnya, sangat jauh berbeda saat dia menjadi pedagang asongan. Saat itu, jika pukul 5 pagi dia harus segera keluar rumah untuk berjualan dan malam hari baru dia akan pulang ke rumahnya. Ibu ini bersyukur bisa meluangkan waktunya lebih banyak untuk keluarganya saat ini.
Gambaran perubahan masyarakat baik dari segi sosial dan ekonominya pun sangat terlihat. Ibu Saimah mengatakan bahwa saat ini mereka bisa bertegur sapa bahkan saling bercengkrama dengan yang lainnya. Walaupun dalam segi ekonomi mereka mengalami penurunan seperti yang diungkapkan pula oleh Ibu Juminten. Dahulunya ia menjual ikan di Pelabuhan, dan dari hasil penjualannya dalam sehari ia mampu menghasilkan Rp. 500 ribu sampai 1 juta rupiah. Hal ini sangat jauh berbeda dengan saat ini, di mana Ibu Juminten tidak lagi menjual ikan. Pelabuhan Kamal kini sangat sepi, bahkan untuk mendapatkan uang Rp. 200 ribu saja sangat sulit.
Kehidupan masyarakat Kamal penuh dengan dinamika sosial. Para pendatang yang biasanya membuat ramai desa Kamal, kini mereka juga ikut berpindah ke tempat lain. Menurut pendamping desa, para pendatanglah yang membuat ramai desa tersebut. Ia menyebutkan bahwa hampir 90% masyarakat Kamal adalah pendatang, sedangkan sisanya adalah warga asli. Pemukiman para pendatang yang masih bertahan dan tidak pergi akibat pembangunan jembatan SURAMADU sangat terlihat jelas. Para pendatang rata-rata tinggal dan bermukim di pinggir jalan utama,  sedangkan untuk masyrakat asli Kamal rata-rata berada di area atas atau berada di dalam perkampungan.
Pemerintah Desa Kamal sendiri berusaha untuk mengembangkan potensi desa baik dari segi masyarakat maupun lingkungan mereka. Pendamping desa tersebut menyatakan bahwa mereka telah merencanakan desa Kamal sebagai objek wisata dan mengembangkan potensi masyarakat di bidang kewirausahaan. Saat saya berada di Kamal, terdengar informasi bahwa esok lusa akan diadakan semacam festival oleh pemuda-pemuda desa. Sayangnya, kami semua tidak bisa menyaksikan secara lansung acara tersebut. Kami berada di Kamal hanya setengah hari saja, dan harus melanjutkan perjalanan ke Surabaya.
Setelah mewawancarai masyarakat Kamal, kami kembali menuju Balai Desa Kamal. Di saat itulah, kami disuguhi berbagai macam makanan (bagi anak kos ini adalah rezeki nomplok, kapan lagi bisa makan sepuasnya) serta berbagai jenis minuman dingin. Mereka sangat tahu sekali bahwa kami kepanasan. Saya mau berbagi sedikit deh makanan dan minuman apa yang disuguhkan mereka, tapi tidak semua ya, soalnya kalau menjelaskan makanan nanti blog ini tidak membahas diaryku lagi tetapi hanya akan menjadi tulisan review makanan ckckckc. Makanan yang disuguhkan itu adalah nasi jagung. Nasi ini di masa lalu merupakan makanan khas Desa Kamal. Nasi tersebut diiringi dengan beberapa lauk-pauk yang banyak. Sementara untuk minumannya, ada 2 jenis, pertama sirup rasa jeruk, terus yang kedua ini nih yang rasanya pertama kali saya coba, yaitu cincau dengan air yang rasanya seperti jahe. Mungkin itu adalah minuman jahe yang khas ala Madura. Jadi rasa minumannya itu hangat-hangat dingin gitu, karena berasal dari jahe dan es batu kemudian ditambah lagi aroma cincau rasanya sangat segar.
Setelah menikmati minuman, kami pun kembali berkumpul untuk mendengarkan cerita kepala desa. Ia menguraikan sejarah awalnya desa Kamal, mulai dari ramainya Kamal sebelum adanya jembatan Suramadu, hingga saat ini yang dia sebut sebagai kota mati. Kepala Desa Kamal pun sangat berharap mahasiswa saat ini bisa memberikan sumbangsih yang bermanfaat bagi mereka, dan dapat menghidupkan kembali Desa Kamal seperti dahulu. Setelah arahan, kami pun memberikan kenang-kenangan untuk Desa Kamal. Setelah kegiatan tersebut (Aaaamiiin semoga kita sebagai mahasiswa yang selalu di sebut-sebut sebagai agen perubahan bisa memberi manfaat untuk Bangsa dan Negara. Merdeka), lanjut ke cerita tadi.. setelah makanan yang tersaji tadi dipersilahkan untuk disantap sebagai makan siang. Nasi jagung beserta lauk pauknya terlihat dilahap cepat oleh teman-teman KKL.
Sayangnya, saya tidak begitu menikmati makan siangnya, karena mungkin terasa tidak begitu lapar saat itu. Saya pun akhirnya memilih untuk mewawancarai Kepala desa dan Bapak yang mendampingi pengelolaan dana desa. Namun sebelum wawancara itu, saya tetap diminta oleh kedua bapak tersebut untuk tetap makan. Saya pun makan walaupun sedikit saja. Setelah semua aktivitas itu selesai, kami pun sholat Dhuhur dan pamitan untuk melanjutkan perjalanan. Entah karena apa, sebelum berangkat saya merasa perut saya sedikit mual. Saya pun memutuskan untuk memuntahkan makanan, karena khawatir akan muntah di dalam bus. Kami semua naik ke bus dan mengecek siapa yang belum naik, takutnya ada yang ketinggalan kan gak lucu kalau ada yang ketinggalan, hehehehe.

Di Kamal inilah saya mendapatkan kesan kuat bagaimana mereka tetap bertahan pada situasi kehidupan tradisional ditengah hantaman modernitas. Jembatan Suramadu itu menjadi simbol modernitas yang membuka peradaban orang Madura yang dahulu dikenal sangat “kolot” dan kuno. Dahulu, mereka hanya memilih mata pencarian yang bersifat tradisional, seperti nelayan, petani, pemberi jasa angkutan perahu, pedagang kecil-kecilan, dan sebagainya. Pekerjaan tersebut akhirnya harus tergusur seiring pembangunan jembatan Suramadu. Bagi mereka yang siap menghadapi modernitas, maka mereka segera mengalihkan mata pencariannya yang berkesesuaian dengan kondisi tersebut. Namun, bagi mereka yang tidak siap, maka mereka akan tetap bertahan pada mata pencaharian dahulu, yang nyata-nyatanya tidak memberikan jaminan ekonomi yang cukup kuat bagi diri dan keluarganya. Akhirnya, jembatan Suramadu dapat dikatakan sebagai simbol kemenangan modernitas ditengah kehidupan tradisional orang Madura, khususnya mereka yang berada di wilayah Kamal.


Bersambung... (episode selanjutnya adalah "Relasi Sosial dibalik Proses Batik Gentong")

Dokumentasi Pribadi


Abis Observasi Eksis Dulu Daaahh..

Kamal yang kini diluput rasa dilema

Komentar