Kampung Samin: Modernitas
yang Dibungkus Tradisionalitas Hidup
Tiba-tiba
pembicaraan kita terpotong dengan kedatangan pihak biro yang mengatakan akan berangkat
ke Blora. Sontak saja saya langsung kembali ke tempat dudukku. Karaoke dengan menyanyikan
lagu dangdut berbahasa Jawa pun mulai diperdendangkan. Menurutku, lagunya enak
didengar, sehingga dapat menghilangkan kejenuhan di atas bus. Saya pun mencoba
ikut bernyanyi dengan membaca lirikya saja, walaupun bibir dan suaraku
terbata-bata mengucapkannya. Saya terus mencoba untuk bernyanyi dan akhirnya
pun saya bisa walaupun hanya beberapa lirik saja yang saya pahami. Saya sendiri
lahir di Suku Bugis dan terbiasa menggunakan dialek Bugis, sehingga pengucapan
saya saat menanyikan lagu itu membuat teman-teman di atas bus tertawa meriah.
Lagu yang sama selalu diulang-ulang, sehingga membuat saya hafal dengan lirik
lagunya hingga saat ini. Kami serasa habis konser dengan menyanyikan 10 lagu, dan
akhirnya membuat kami merasa lelah dan beberapa diantara kami memilih untuk
tidur siang.
Tidak
terasa kami memasuki wilayah Blora. Di sana masih sangat asri, pohon-pohon jati
mulai terlihat di balik senja. Setiba kami di Blora, kami pun disambut di balai
Desa. Setelah penyambutan, kami pun makan malam bersama. Setelah sholat Magrib,
kami melanjutkan perjalanan ke perkampungan sedulur
sikep. Kami jalan menyusuri perkampungan itu ditengah gelapnya malam. Saat di
balai desa, kami dibagi lagi menjadi beberapa kelompok lagi. Saya dan teman
yang lainnya menginap di rumah keturunan orang Samin. Sesampai di sana, kami
diterima dengan baik. Satu persatu memperkenalkan diri dengan menyebut nama dan
daerah asal dengan menggunakan bahasa Jawa. Sayapun menggunakan bahasa Jawa walaupun
masih dituntun untuk mengucapkannya. Setelah perkenalan tadi, kami merapikan
barang-barang bawaan dan segera membersihkan badan. Selanjutnya, kami meminta
kesediaan Bapak Salim untuk diwawancarai.
Ada
persoalan bahasa dalam proses wawancara tersebut, sehingga saya memilih mundur
dan mendengarkan saja. Setelah wawancara yang sangat panjang, kami pun bersiap-siap
untuk berlayar ke pulau kapuk, hehehe.
Tiba-tiba kami disuguhkan makan malam lagi. Padahal sebelumnya kami diberikan
makanan ringan selagi wawancara tadi. Kami tidak menolak rezeki, kapan lagi
makan melulu kerjanya. Biasanya anak kos makannya tidak teratur dan sekarang
malahan sangat teratur bahkan lebih. Kami pun menyantap makanan yang disajikan tersebut
dengan lahap. Kami bersyukur perut telah kenyang, dan tidur pun pastilah akan nyenyak. Ibu Endah dan Ibu Aris juga menginap di
tempat kami, sehingga membuat suasana di rumah yang diinapi menjadi sangat
ramai. Akibat kelelahan, mata pun segera terlelap. Selamat berlayar ke pulau
kapuk.....
Pagi
menyambutku dengan suara teman-teman yang terbangun lebih dahulu. Saat
terbangun saya langsung menuju ke WC untuk mengambil air wudhu sholat Shubuh. Saya
melihat antrian di WC sangat panjang. Saat itu saya hanya mengambil air wudhu,
dan saya langsung kembali ke ruang depan untuk sholat. Rumah yang kami tumpangi
sangat sederhana, beralaskan tanah sehingga kami tidur dengan dialasi terpal saja.
Namun, keadaan ini tidak mengganggu tidur, malahan ada rasa nyaman di dalamnya.
Setelah sholat Shubuh, saya meminjam sandal Fany, dan langsung menuju ke kamar
mandi yang terlihat masih ada antrian yang sangat panjang. Teman mulai mengatur
nomor antrian, karena mereka semuanya ingin mandi di kamar mandi yang tidak
memiliki kloset. Padahal sama saja, daripada saya antri lama saya mandi di
kamar mandi yang ada klosetnya saja. Klosetnya pun bersih dan airnya pun dari
bak yang sama hanya saja diberi sekat tepi bak bandi tetap dibiarkan terhubung
dengan kamar mandi lainnya.
Setelah
selesai mandi, saya keluar dari rumah dan melihat kabut secara dekat dan
merasakan suasana pagi yang sangat sejuk ditemani pemandangan sawah yang masih
hijau. Keadaan ini telah mengingatkanku pada kampung halaman di Pinrang yang
jauh itu. Namun, suasana hatiku langsung berubah ketika melihat dari kejauhan Fany
memakai sepatuku yang dipenuhi lumpur. Hal itu membuatku sedikit kecewa, ya sudahlah,
saya tidak mau banyak berbicara tentang itu. Karena suasana hatiku sejak tadi
malam dengan bahasa yang tidak kumengerti dan mendapati sepatu yang kotor
membuatku sedikit kecewa. Saya pun menghela nafas berusaha untuk bisa
mengontrol diri. Saya melupakan segala kekesalan tadi dan tadi malam, dengan
menyibukkan diri berfoto-foto. Matahari mulai naik ke peredarannya menandakan
waktunya untuk FGD dengan orang yang dituakan oleh sedulur sikep. Banyak informasi yang didapatkan saat FGD tersebut. Setelah
FGD, kami berterima kasih dan pamitan pulang.
Perjalanan
KKL di empat lokasi telah selesai, sisa laporan yang harus dibuat semengalir
dan semenarik mungkin. Tugas akhir itu yang membayangi pikiranku, dan sambil
memikirkan itu kami keluar dari kampung menuju bus yang sudah menunggu kami. Perjalanan
terakhir KKL ini adalah kegiatan jalan-jalan ke destinasi wisata di Semarang,
yaitu kuil Sam Po Kong. Walaupun sebelumnya saya sudah masuk ke sana, saya
mencoba untuk menikmatinya. Sebelumnya, pihak biro saat menyampaikan promosinya
berjanji ke kami bahwa kami akan jalan-jalan ke Cimori, tetapi ternyata janji tersebut
tidak terpenuhi. Untuk menutup janjinya, maka alur perjalanannya diubah ke Mesjid
Raya dan Sam Pho Kong.
Setelah
selesai jalan-jalan di Sam Pho Kong, kami mampir membeli oleh-oleh. Selanjutnya
menuju pulang ke Yogyakarta. Saat itu pembagian ikan bandeng presto, sebagai makanan
khas Semarang, dilakukan pihak biro. Waktu pembagiannya sangat tepat, ketika
semua peserta KKL sudah diterpa rasa lapar. Seusai makan, saya pun melihat ke arah
jendela dengan berbagai pikiran yang ada. Tanpa terasa, saya tertidur dan sampai
kembali di rektorat UNY.
Yeyyy..
akhirnya bisa pulang kembali dengan selamat. Saya dan beberapa teman yang
searah, memesan grab car menuju ke kos masing-masing. Pilihan memesan grab car,
karena barang bawaan semakin bertambah banyak dengan oleh-oleh yang dibeli
sepanjang perjalanan KKL itu. Perjalanan KKL ini setidaknya telah menyadarkan
saya, bahwa kampung-kampung dan nuansa di pedesaan Jawa sangat berbeda dengan
kampung halamanku di Pinrang Sulawesi Selatan. Walaupun berbeda, saya akhirnya
menyadari, bahwa Indonesia itu benar-benar luar biasa keberagamannya. Dari
sukubangsa saja, setidaknya saya telah berjumpa dengan suku Jawa di sepanjang
perjalanan, suku Madura di Kamal, “suku” asing semodel Mami Dolly di gang
Dolly, “suku” Samin di Blora, dan suku Tionghoa di kuil Sam Pho Kong. Keragaman
sukubangsa beserta karakter kebudayaan inilah yang membuat Indonesia menjadi
sangat kaya dan sangat beradab. Saya bangga menjadi bagian dari bangsa yang
besar ini. Kusadari akhirnya, tugas suciku adalah berguna bagi bangsaku,
setidaknya menjadi temali erat dari merajut kebangsaan di antara teman-teman ku
yang beragam ini.
Inilah
Kisahku teman. KKL-ku, bukan sekadar perjalanan studi, tetapi bagiku, KKL
adalah perjalanan menghayati tentang hidup dan kehidupan. Inilah kisahku, mana
kisahmu teman?. Jangan lupa komen ya.. semoga bermanfaat,,, terima kasih.
Dokumentasi Pribadi
Wawancara dengan Bapak Salim dan Memperkenalkan diri kami masing-masing menggunakan bahasa Jawa.
Makan malam lagi
Perkampungan masyarakat Sedulur Sikep
Keluar menyapa kabut yang mulai memanggilku untuk mengabadikan dirinya
Kesederhanaan yang membuat rasa ingin untuk mengulangi kembali.
Sam Po Kong









Komentar
Posting Komentar