Kampung Samin: Modernitas yang Dibungkus Tradisionalitas Hidup #5

Kampung Samin: Modernitas yang Dibungkus Tradisionalitas Hidup

Tiba-tiba pembicaraan kita terpotong dengan kedatangan pihak biro yang mengatakan akan berangkat ke Blora. Sontak saja saya langsung kembali ke tempat dudukku. Karaoke dengan menyanyikan lagu dangdut berbahasa Jawa pun mulai diperdendangkan. Menurutku, lagunya enak didengar, sehingga dapat menghilangkan kejenuhan di atas bus. Saya pun mencoba ikut bernyanyi dengan membaca lirikya saja, walaupun bibir dan suaraku terbata-bata mengucapkannya. Saya terus mencoba untuk bernyanyi dan akhirnya pun saya bisa walaupun hanya beberapa lirik saja yang saya pahami. Saya sendiri lahir di Suku Bugis dan terbiasa menggunakan dialek Bugis, sehingga pengucapan saya saat menanyikan lagu itu membuat teman-teman di atas bus tertawa meriah. Lagu yang sama selalu diulang-ulang, sehingga membuat saya hafal dengan lirik lagunya hingga saat ini. Kami serasa habis konser dengan menyanyikan 10 lagu, dan akhirnya membuat kami merasa lelah dan beberapa diantara kami memilih untuk tidur siang.
Tidak terasa kami memasuki wilayah Blora. Di sana masih sangat asri, pohon-pohon jati mulai terlihat di balik senja. Setiba kami di Blora, kami pun disambut di balai Desa. Setelah penyambutan, kami pun makan malam bersama. Setelah sholat Magrib, kami melanjutkan perjalanan ke perkampungan sedulur sikep. Kami jalan menyusuri perkampungan itu ditengah gelapnya malam. Saat di balai desa, kami dibagi lagi menjadi beberapa kelompok lagi. Saya dan teman yang lainnya menginap di rumah keturunan orang Samin. Sesampai di sana, kami diterima dengan baik. Satu persatu memperkenalkan diri dengan menyebut nama dan daerah asal dengan menggunakan bahasa Jawa. Sayapun menggunakan bahasa Jawa walaupun masih dituntun untuk mengucapkannya. Setelah perkenalan tadi, kami merapikan barang-barang bawaan dan segera membersihkan badan. Selanjutnya, kami meminta kesediaan Bapak Salim untuk diwawancarai.
Ada persoalan bahasa dalam proses wawancara tersebut, sehingga saya memilih mundur dan mendengarkan saja. Setelah wawancara yang sangat panjang, kami pun bersiap-siap untuk berlayar ke pulau kapuk, hehehe. Tiba-tiba kami disuguhkan makan malam lagi. Padahal sebelumnya kami diberikan makanan ringan selagi wawancara tadi. Kami tidak menolak rezeki, kapan lagi makan melulu kerjanya. Biasanya anak kos makannya tidak teratur dan sekarang malahan sangat teratur bahkan lebih. Kami pun menyantap makanan yang disajikan tersebut dengan lahap. Kami bersyukur perut telah kenyang,  dan tidur pun pastilah akan nyenyak.  Ibu Endah dan Ibu Aris juga menginap di tempat kami, sehingga membuat suasana di rumah yang diinapi menjadi sangat ramai. Akibat kelelahan, mata pun segera terlelap. Selamat berlayar ke pulau kapuk.....
Pagi menyambutku dengan suara teman-teman yang terbangun lebih dahulu. Saat terbangun saya langsung menuju ke WC untuk mengambil air wudhu sholat Shubuh. Saya melihat antrian di WC sangat panjang. Saat itu saya hanya mengambil air wudhu, dan saya langsung kembali ke ruang depan untuk sholat. Rumah yang kami tumpangi sangat sederhana, beralaskan tanah sehingga kami tidur dengan dialasi terpal saja. Namun, keadaan ini tidak mengganggu tidur, malahan ada rasa nyaman di dalamnya. Setelah sholat Shubuh, saya meminjam sandal Fany, dan langsung menuju ke kamar mandi yang terlihat masih ada antrian yang sangat panjang. Teman mulai mengatur nomor antrian, karena mereka semuanya ingin mandi di kamar mandi yang tidak memiliki kloset. Padahal sama saja, daripada saya antri lama saya mandi di kamar mandi yang ada klosetnya saja. Klosetnya pun bersih dan airnya pun dari bak yang sama hanya saja diberi sekat tepi bak bandi tetap dibiarkan terhubung dengan kamar mandi lainnya.
Setelah selesai mandi, saya keluar dari rumah dan melihat kabut secara dekat dan merasakan suasana pagi yang sangat sejuk ditemani pemandangan sawah yang masih hijau. Keadaan ini telah mengingatkanku pada kampung halaman di Pinrang yang jauh itu. Namun, suasana hatiku langsung berubah ketika melihat dari kejauhan Fany memakai sepatuku yang dipenuhi lumpur. Hal itu membuatku sedikit kecewa, ya sudahlah, saya tidak mau banyak berbicara tentang itu. Karena suasana hatiku sejak tadi malam dengan bahasa yang tidak kumengerti dan mendapati sepatu yang kotor membuatku sedikit kecewa. Saya pun menghela nafas berusaha untuk bisa mengontrol diri. Saya melupakan segala kekesalan tadi dan tadi malam, dengan menyibukkan diri berfoto-foto. Matahari mulai naik ke peredarannya menandakan waktunya untuk FGD dengan orang yang dituakan oleh sedulur sikep. Banyak informasi yang didapatkan saat FGD tersebut. Setelah FGD, kami berterima kasih dan pamitan pulang.
Perjalanan KKL di empat lokasi telah selesai, sisa laporan yang harus dibuat semengalir dan semenarik mungkin. Tugas akhir itu yang membayangi pikiranku, dan sambil memikirkan itu kami keluar dari kampung menuju bus yang sudah menunggu kami. Perjalanan terakhir KKL ini adalah kegiatan jalan-jalan ke destinasi wisata di Semarang, yaitu kuil Sam Po Kong. Walaupun sebelumnya saya sudah masuk ke sana, saya mencoba untuk menikmatinya. Sebelumnya, pihak biro saat menyampaikan promosinya berjanji ke kami bahwa kami akan jalan-jalan ke Cimori, tetapi ternyata janji tersebut tidak terpenuhi. Untuk menutup janjinya, maka alur perjalanannya diubah ke Mesjid Raya dan Sam Pho Kong.
Setelah selesai jalan-jalan di Sam Pho Kong, kami mampir membeli oleh-oleh. Selanjutnya menuju pulang ke Yogyakarta. Saat itu pembagian ikan bandeng presto, sebagai makanan khas Semarang, dilakukan pihak biro. Waktu pembagiannya sangat tepat, ketika semua peserta KKL sudah diterpa rasa lapar. Seusai makan, saya pun melihat ke arah jendela dengan berbagai pikiran yang ada. Tanpa terasa, saya tertidur dan sampai kembali di rektorat UNY.
Yeyyy.. akhirnya bisa pulang kembali dengan selamat. Saya dan beberapa teman yang searah, memesan grab car menuju ke kos masing-masing. Pilihan memesan grab car, karena barang bawaan semakin bertambah banyak dengan oleh-oleh yang dibeli sepanjang perjalanan KKL itu. Perjalanan KKL ini setidaknya telah menyadarkan saya, bahwa kampung-kampung dan nuansa di pedesaan Jawa sangat berbeda dengan kampung halamanku di Pinrang Sulawesi Selatan. Walaupun berbeda, saya akhirnya menyadari, bahwa Indonesia itu benar-benar luar biasa keberagamannya. Dari sukubangsa saja, setidaknya saya telah berjumpa dengan suku Jawa di sepanjang perjalanan, suku Madura di Kamal, “suku” asing semodel Mami Dolly di gang Dolly, “suku” Samin di Blora, dan suku Tionghoa di kuil Sam Pho Kong. Keragaman sukubangsa beserta karakter kebudayaan inilah yang membuat Indonesia menjadi sangat kaya dan sangat beradab. Saya bangga menjadi bagian dari bangsa yang besar ini. Kusadari akhirnya, tugas suciku adalah berguna bagi bangsaku, setidaknya menjadi temali erat dari merajut kebangsaan di antara teman-teman ku yang beragam ini.

Inilah Kisahku teman. KKL-ku, bukan sekadar perjalanan studi, tetapi bagiku, KKL adalah perjalanan menghayati tentang hidup dan kehidupan. Inilah kisahku, mana kisahmu teman?. Jangan lupa komen ya.. semoga bermanfaat,,, terima kasih.

Dokumentasi Pribadi

Wawancara dengan Bapak Salim dan Memperkenalkan diri kami masing-masing menggunakan bahasa Jawa.


Makan malam lagi


Perkampungan masyarakat Sedulur Sikep


Keluar menyapa kabut yang mulai memanggilku untuk mengabadikan dirinya



Kesederhanaan yang membuat rasa ingin untuk mengulangi kembali.



Sam Po Kong


Komentar