Relasi Sosial dibalik Proses Batik Gentong #3

Relasi Sosial dibalik Proses Batik Gentong

Perjalanan kemudian dilanjutkan ke Kampung Batik. Bus kami pun mulai melaju kembali. Saya sendiri sudah mulai merasa nyaman dengan lingkungan di atas bis setelah semalaman berusaha menyesuaikan diri. Tentu membutuhkan waktu untuk menyesuaikan dengan lingkungan Bus, mungkin ini juga tips untuk teman-teman sebelum naik Bus terlebih dahulu baiknya menenangkan diri itu penting karena takutnya akan mabuk di jalan nantinya. Setelah saya membuat nyaman diri saya dengan lingkungan Bus dan segala guncangannya, akhirnya saya berhasil membuat diriku bersahabat dengan lingkungan Bus yang ramai dengan suara teman-teman yang sangat ramai pula. Akhirnya pun aku mulai menikmati suara mereka, dan mulai ikut bernyanyi. Hal yang paling membuat teman-teman kesel adalah lagu-lagu yang di sediakan di Bus tersebut bukan style kids zaman now.
Bayangkan saja, supir dan pihak biro hanya memutar lagu dangdut yang tidak diketahui lirik dan maknanya oleh seluruh peserta KKL itu. Jadinya, kami pun protes dengan cara nyanyi seperti kaset rusak nadanya kemana dan liriknya kemana. Hal itu terjadi lebih dari 3 lagu. Saya pun merasa harus mengambil inisiatif untuk mengganti lagu tersebut. Jadi saya ke depan dekat pak sopir dan mengubah lagu-lagunya yang kami tahu. Nah setelah itu teman-teman semuanya terdiam dan mulai menyanyi dengan baik. Mendengar lagu-lagu itu, membuat teman-teman merasa ngantuk dan beberapa masih ada yang menyanyi. Keadaan ini juga yang membuat saya merasa ngantuk. Namun, saya harus menahan rasa kantuk ini ketika melihat dari balik jendela ada kuburan yang tidak diberi batas antara tanah untuk kuburan dengan tanah milik warga.
Pada umumnya masyarakat Jawa akan selalu memberikan batas untuk kuburan. Batas yang dimaksud di sini yaitu batas berupa pagar beton.  Mungkin saja karena ini kuburan itu berada di daerah pedesaan, seperti di Kampung saya, pemakaman umum pun tidak diberi batas. Kalaupun ada hanya berupa patok atau pagar hidup saja. Selain itu, di sepanjang perjalanan, saya berusaha mengamati perkebunan, perkampungan, dan pasar. Hal ini dilakukan untuk menggali perbedaan pola kebudayaan antara masyarakat Jawa dengan masyarakat Bugis di mana saya dilahirkan.
Tanpa terasa kami pun sampai di kampung batik, dan busnya berhenti di dekat lapangan. Di lapangan itu sepertinya akan ada kegiatan pasar malam. Kami menyebutnya sekaten dengan nada candaan. Kami semua turun, berkumpul dan langsung menuju ke tempat pembuatan batik gentong itu. Sepanjang jalan masuk terlihat toko-toko batik terpampang dan rumah-rumah penduduk di sana tergolong mewah, tidak jauh dari pintu masuk kami tiba di tempat tujuan. Sebelum masuk ke rumahnya, kami disambut ucapan selamat datang di depan rumahnya. Ucapan selamat datang itu diiringi pula agar semua pengunjung dapat membeli atau pun sekedar melihat-lihat cara pembuatan batik gentong saja. Setelah itu kami diarahkan ke aula yang disediakan. Di sana rombongan KKL pun disambut oleh Kepala Desa Paseseh.
Kami diberi penjelasan tentang sejarah dan pembuatan batik gentong oleh pengusaha batik gentongnya. Beliau menjelaskan mengapa nama batik ini disebut sebagai batik gentong. Katanya, dalam proses pewarnaan batik ini dilakukan di dalam sebuah gentong. Proses pewarnaannya pun menggunakan warna alam. Dalam pengakuannya, warna yang paling sulit adalah untuk mendapatkan warna biru malam atau navy dalam sebutan kids zaman now. Batik ini dibuat oleh ibu rumah tangga yang ada di sekitarnya. Sementara untuk modelnya sendiri, diakui tidak memiliki makna khusus. Bagi mereka yang bisa menemukan model yang bagus, maka akan diberi imbalan yang lebih. Sedangkan untuk mendapatkan model yang lebih bagus, Pak Ali sendiri sering mengadakan pelatihan untuk ibu-ibu rumah tangga tanpa membayar sepeserpun. Hal itu dilakukannya demi mendapatkan hasil yang sangat baik. Namun kadangkala pengusaha lainnya sering meminta ibu yang telah mendapatkan pelatihan tadi untuk melukiskan batik juga. Beliau sendiri tidak keberatan jika hal itu terjadi, asalkan ibu itu tetap melukiskan batik untuk perusahaannya.
Batik gentong memiliki harga jual yang sangat tinggi, bahkan ada yang mencapai ratusan juta rupiah. Dahulunya batik gentong bukanlah batik yang diperjualbelikan. Namun, untuk ibu-ibu rumah tangga yang memiliki waktu luang untuk membuat batik sambil menunggu suaminya pulang dari melaut, mereka juga membuat gendongan batik saat menunggu hari untuk calon bayinya lahir. Hingga kini, batik tersebut masih dipegang para ibu rumah tangga, dan posisinya telah berbeda. Jika dahulu hanya sebagai hobi saja untuk menunggu suaminya pulang dari kerja, namun saat ini batik yang mereka buat bisa menghasilkan uang.
Jika melihat proses pembuatan batik gentong ini, maka ada relasi sosial yang dibangun antara pemilik dengan pengerajin. Batik tersebut menjadi media sebuah relasi, di mana dalam satu helai kain akan banyak orang yang akan mengerjakannya, dan setiap proses pembuatannya dilakukan dengan orang yang berbeda. Untuk distribusi batik gentong ini sendiri telah mencapai pasar internasional. Banyak pedagang batik gentong menebarkan mitos-mitos tentang makna lukisan bahkan dalam proses pembuatanya, walaupun sebenarnya tidak dapat dipastikan apakah hal tersebut benar adanya. Setelah saya mengklarifikasikan sendiri kepada Bapak Ali, ia mengatakan bahwa untuk makna dan mitos lukisan batik sendiri tidak memiliki makna. Namun untuk proses pewarnaannnya, ada berhubungan dengan lingkungan Desa Paseseh. Ada mitos yang beredar bahwa ketika terjadi duka seperti tetangga mereka meninggal, maka warna dari batik gentong tersebut akan pucat pasih. Sementara ketika ada pesta pernikahan maka warna batik gentong akan cerah.

Bapak Ali sendiri tidak menyangkal ataupun membetulkan mitos tentang warna di atas. Menurutnya, hal tersebut bisa saja terjadi pada saat ini. Namun baginya, hal itu sama saja tidak berpengaruh ketika ada tetangga yang meninggal ataupun ada pesta pernikahan. Aspek yang berpengaruh adalah waktu proses pelukisan batik itu akan lebih lama. Ibu-ibu tadi pasti akan berpartisipasi ikut membantu dalam kegiatan tersebut. Keterangan itu telah mampu menjawab pertanyaan saya. Beberapa teman masih melihat-lihat batik gentong, dan beberapa lainnya langsung menuju ke bus. Sayapun menuju Bus untuk melanjutkan perjalanan ke X-Dolly. Rasanya sangat lelah ketika satu hari harus mendapatkan data di dua wilayah berbeda.


Bersambung... (episode selanjutnya adalah "X-Dolly: Modernitas yang Menghanyutkan" terus ikuti tulisan di blog ini ya! akan ada dokumentasi asli dari gang yang penuh kontravesi dari berbagai sudut pandang)

Dokumentasi Pribadi
Batik Gentong (Asli)

Mencoba Batik Gentong Asli (maaf Sarna wajahmu di foto ini kepotong)



Komentar