Perjalanan kemudian dilanjutkan ke Kampung Batik. Bus kami pun mulai melaju
kembali. Saya sendiri sudah mulai merasa nyaman dengan lingkungan di atas bis
setelah semalaman berusaha menyesuaikan diri. Tentu membutuhkan waktu untuk
menyesuaikan dengan lingkungan Bus, mungkin ini juga tips untuk teman-teman
sebelum naik Bus terlebih dahulu baiknya menenangkan diri itu penting karena
takutnya akan mabuk di jalan nantinya. Setelah saya membuat nyaman diri saya
dengan lingkungan Bus dan segala guncangannya, akhirnya saya berhasil membuat
diriku bersahabat dengan lingkungan Bus yang ramai dengan suara teman-teman
yang sangat ramai pula. Akhirnya pun aku mulai menikmati suara mereka, dan
mulai ikut bernyanyi. Hal yang paling membuat teman-teman kesel adalah
lagu-lagu yang di sediakan di Bus tersebut bukan style kids zaman now.
Bayangkan saja, supir dan pihak biro hanya memutar lagu dangdut yang tidak
diketahui lirik dan maknanya oleh seluruh peserta KKL itu. Jadinya, kami pun
protes dengan cara nyanyi seperti kaset rusak nadanya kemana dan liriknya
kemana. Hal itu terjadi lebih dari 3 lagu. Saya pun merasa harus mengambil
inisiatif untuk mengganti lagu tersebut. Jadi saya ke depan dekat pak sopir dan
mengubah lagu-lagunya yang kami tahu. Nah setelah itu teman-teman semuanya
terdiam dan mulai menyanyi dengan baik. Mendengar lagu-lagu itu, membuat
teman-teman merasa ngantuk dan beberapa masih ada yang menyanyi. Keadaan ini
juga yang membuat saya merasa ngantuk. Namun, saya harus menahan rasa kantuk
ini ketika melihat dari balik jendela ada kuburan yang tidak diberi batas
antara tanah untuk kuburan dengan tanah milik warga.
Pada umumnya masyarakat Jawa akan selalu memberikan batas untuk kuburan.
Batas yang dimaksud di sini yaitu batas berupa pagar beton. Mungkin
saja karena ini kuburan itu berada di daerah pedesaan, seperti di Kampung saya,
pemakaman umum pun tidak diberi batas. Kalaupun ada hanya berupa patok atau
pagar hidup saja. Selain itu, di sepanjang perjalanan, saya berusaha mengamati
perkebunan, perkampungan, dan pasar. Hal ini dilakukan untuk menggali perbedaan
pola kebudayaan antara masyarakat Jawa dengan masyarakat Bugis di mana saya
dilahirkan.
Tanpa terasa kami pun sampai di kampung batik, dan busnya berhenti di dekat
lapangan. Di lapangan itu sepertinya akan ada kegiatan pasar malam. Kami
menyebutnya sekaten dengan nada candaan. Kami semua turun, berkumpul dan
langsung menuju ke tempat pembuatan batik gentong itu. Sepanjang jalan masuk
terlihat toko-toko batik terpampang dan rumah-rumah penduduk di sana tergolong
mewah, tidak jauh dari pintu masuk kami tiba di tempat tujuan. Sebelum masuk ke
rumahnya, kami disambut ucapan selamat datang di depan rumahnya. Ucapan selamat
datang itu diiringi pula agar semua pengunjung dapat membeli atau pun sekedar
melihat-lihat cara pembuatan batik gentong saja. Setelah itu kami diarahkan ke
aula yang disediakan. Di sana rombongan KKL pun disambut oleh Kepala Desa
Paseseh.
Kami diberi penjelasan tentang sejarah dan pembuatan batik gentong oleh
pengusaha batik gentongnya. Beliau menjelaskan mengapa nama batik ini disebut
sebagai batik gentong. Katanya, dalam proses pewarnaan batik ini dilakukan di
dalam sebuah gentong. Proses pewarnaannya pun menggunakan warna alam. Dalam
pengakuannya, warna yang paling sulit adalah untuk mendapatkan warna biru malam
atau navy dalam sebutan kids zaman now. Batik ini
dibuat oleh ibu rumah tangga yang ada di sekitarnya. Sementara untuk modelnya
sendiri, diakui tidak memiliki makna khusus. Bagi mereka yang bisa menemukan
model yang bagus, maka akan diberi imbalan yang lebih. Sedangkan untuk
mendapatkan model yang lebih bagus, Pak Ali sendiri sering mengadakan pelatihan
untuk ibu-ibu rumah tangga tanpa membayar sepeserpun. Hal itu dilakukannya demi
mendapatkan hasil yang sangat baik. Namun kadangkala pengusaha lainnya sering
meminta ibu yang telah mendapatkan pelatihan tadi untuk melukiskan batik juga.
Beliau sendiri tidak keberatan jika hal itu terjadi, asalkan ibu itu tetap
melukiskan batik untuk perusahaannya.
Batik gentong memiliki harga jual yang sangat tinggi, bahkan ada yang
mencapai ratusan juta rupiah. Dahulunya batik gentong bukanlah batik yang
diperjualbelikan. Namun, untuk ibu-ibu rumah tangga yang memiliki waktu luang
untuk membuat batik sambil menunggu suaminya pulang dari melaut, mereka juga
membuat gendongan batik saat menunggu hari untuk calon bayinya lahir. Hingga
kini, batik tersebut masih dipegang para ibu rumah tangga, dan posisinya telah
berbeda. Jika dahulu hanya sebagai hobi saja untuk menunggu suaminya pulang
dari kerja, namun saat ini batik yang mereka buat bisa menghasilkan uang.
Jika melihat proses pembuatan batik gentong ini, maka ada relasi sosial
yang dibangun antara pemilik dengan pengerajin. Batik tersebut menjadi media
sebuah relasi, di mana dalam satu helai kain akan banyak orang yang akan
mengerjakannya, dan setiap proses pembuatannya dilakukan dengan orang yang
berbeda. Untuk distribusi batik gentong ini sendiri telah mencapai pasar
internasional. Banyak pedagang batik gentong menebarkan mitos-mitos tentang
makna lukisan bahkan dalam proses pembuatanya, walaupun sebenarnya tidak dapat
dipastikan apakah hal tersebut benar adanya. Setelah saya mengklarifikasikan
sendiri kepada Bapak Ali, ia mengatakan bahwa untuk makna dan mitos lukisan
batik sendiri tidak memiliki makna. Namun untuk proses pewarnaannnya, ada
berhubungan dengan lingkungan Desa Paseseh. Ada mitos yang beredar bahwa ketika
terjadi duka seperti tetangga mereka meninggal, maka warna dari batik gentong
tersebut akan pucat pasih. Sementara ketika ada pesta pernikahan maka warna
batik gentong akan cerah.
Bapak Ali sendiri tidak menyangkal ataupun membetulkan mitos tentang warna
di atas. Menurutnya, hal tersebut bisa saja terjadi pada saat ini. Namun
baginya, hal itu sama saja tidak berpengaruh ketika ada tetangga yang meninggal
ataupun ada pesta pernikahan. Aspek yang berpengaruh adalah waktu proses
pelukisan batik itu akan lebih lama. Ibu-ibu tadi pasti akan berpartisipasi
ikut membantu dalam kegiatan tersebut. Keterangan itu telah mampu menjawab
pertanyaan saya. Beberapa teman masih melihat-lihat batik gentong, dan beberapa
lainnya langsung menuju ke bus. Sayapun menuju Bus untuk melanjutkan perjalanan
ke X-Dolly. Rasanya sangat lelah ketika satu hari harus mendapatkan data di dua
wilayah berbeda.
Bersambung... (episode selanjutnya adalah "X-Dolly: Modernitas yang Menghanyutkan" terus ikuti tulisan di blog ini ya! akan ada dokumentasi asli dari gang yang penuh kontravesi dari berbagai sudut pandang)
Dokumentasi Pribadi
Dokumentasi Pribadi
Batik Gentong (Asli)
Mencoba Batik Gentong Asli (maaf Sarna wajahmu di foto ini kepotong)



Komentar
Posting Komentar