Modernitas ditengah
Tradisionalitas yang Diagungkan
Adhis Tessa
Jurusan Pendidikan Sosiologi, Fakultas Sosiologi UNY
Dokumentasi Pribadi
Wong urip ora adoh-adoh bari wedi.
Sekien lan esuk, bisa mati dikubur ning bumi.
Ora usah sombong dunya.
Wingi atau gemiyen urip manungso podo ning moso arep.
Sedulur sikep dadi pegangane.
Orang hidup tidak bisa jauh-jauh dari tanah
Hari ini atau besok, kapan pun bisa mati dikubur di dalam bumi
Tidak perlu sombong dengen kepemilikan dunia
Kemarin atau yang lalu, hidup manusia sama saja dengan hidup masa yang akan datang.
Sedulur sikep harus menjadi pegangannya (ikatan saling menjaga)
Mengutip catatan harian H,
(Blora, Desember 2017)
Kutipan tuturan dari sebuah falsafah atau pandangan dunia (worldview) masyarakat yang menyebut dirinya sebagai sedulur sikep (teman tanah) menjadi menarik dalam konteks kekinian. Di dalamnya sarat dengan konsep hidup kesederhanaan, hidup menyatu dengan lingkungan, kerendahan hati, dan ikatan paguyuban yang dipegang untuk menghadapi tantangan zaman. Sedulur Sikep atau yang biasa kita kenal dengan sebutan masyarakat Samin dikenal sangat kuat memegang tradisinya. Mereka dikenal dengan prinsip hidup atau ajaran Samin yang berasal dari leluhurnya, yaitu Samin Surosentiko.
Di usia 31 tahun di tahun 1890, beliau menyebarkan ajaran pertamanya kepada warga-warga yang ada di desanya. Ajaran yang disebarkan tadi mendapatkan tanggapan baik, bahkan memikat warga desa sekitarnya. Pada awalnya, ajaran itu tidak menarik minat pemerintah dan tidak juga menimbulkan persoalan bagi pemerintah kolonial. Setelah ia berkembang, sekitar tahun 1905, dengan ajaran Samin yang dipegangnya, para pengikutnya mulai menarik diri dari kehidupan umum yang ada di desanya. Tidak hanya itu, mereka pun mulai menolak memberikan upeti kepada pemerintah Kolonial melalui lumbung desa yang ada. Hal ini dianggap oleh penjajah sebagai pembangkangan, dan upaya membebaskan diri dari aturan yang ditetapkan oleh Belanda. Samin pun akhirnya dicap sebagai “pemberontak”, dan kelompoknya disebut sebagai “kelompok pemberontakan”. Ia dan bersama delapan pengikut setianya pun kemudian dibuang Belanda ke luar Jawa.
Bagi para pendukungnya, biarlah sosok gurunya hilang, tetapi kewajiban mereka adalah mengabadikan nilai-nilai ajarannya dalam praktik hidup keseharian mereka hingga di masa kini. Perlawanan itu bukan hanya terhadap Belanda ataupun Jepang, mereka pun tidak segan-segan melakukan perlawanan terhadap pemerintah Indonesia. Perlawanan itu memang tidak dalam bentuk pemberontakan bersenjata, tetapi perlawanan halus dengan sesuatu yang berbeda dengan kelaziman kehidupan masyarakat umum. Dalam kasus semen Holcim, mereka berusaha menolak kebijakan pemerintah dengan protes menyakiti dirinya. Mereka pun menarik diri dari kehidupan warga biasa, dan lebih berkonsentrasi menjalani hidup apa adanya. Sebagai pengikut sedulur sikepnya, ia pun harus konsisten memegang teguh prinsip-prinsip yang diajarkan Samin.
Sebenarnya prinsip hidup apa sih yang diajarkan Samin kepada pengikutnya? Inti ajaran Samin adalah kesederhanaan, yang dituangkan dalam pokok-pokok ajaran bahwa:
(i) Agama adalah senjata atau pegangan hidup. Namun demikian, ia tidak berarti harus beragama sesuai pada umumnya. Bagi pengikut Samin, semua agama baik dan memandu seseorang untuk menjalani hidupnya dengan benar. Karenanya, para pengikut Samin tidak akan membeda-bedakan agama. Ia pun tidak pernah mengingkari atau membenci agama. Agama harus menjadi bagian dari tabiat kehidupannya. Mereka memilih Islam dalam kolom agama di KTP nya, karena ada anggapan bahwa ajarannya memiliki banyak kesamaan dengan Islam.
(ii) Jangan mengganggu orang, jangan bertengkar, jangan suka iri hati, dan jangan suka mengambil milik orang. Ajaran ini mulai ditanamkan kepada anak-anak mereka mulai dari usia balita sampai usia dewasa. Para orang tua selalu menasehati anaknya dan memberikan contoh dengan sikap hidup keseharian mereka. Gosip atau rumor pun dihindarkan dalam pergaulan sosialnya. Para perempuan di sini hebat, karena berusaha menahan dirinya dari aktivitas gosip menggosip.
(iii) Bersikap sabar dan jangan sombong, sebagaimana untaian falsafah hidup di atas. Mereka dikenal sebagai sedulur sikep, atau wong sikep, karena mereka mengedepankan aspek sopan santun, dan kehidupan yang sangat sederhana. Mereka akan berupaya lebih mendekatkan dirinya dengan alam semesta dalam berbagai praktik kehidupannya. Lantai rumah akan selalu beralaskan tanah, dan akhirnya mereka pun akan sangat jarang sekali menggunakan alas kaki. Alas kaki, terlebih sepatu akan dianggap sebagai penanda kesombongan, yang menuntut pandangan dunia mereka akan tuntutan modern, seperti lantai keramik, sapu bersih, alat pel, dan sebagainya.
(iv) Manusia hidup harus memahami kehidupannya, sebab hidup adalah sama dengan roh dan hanya satu, dibawa abadi selamanya. Menurut orang Samin, roh orang yang meninggal tidaklah meninggal, namun hanya menanggalkan pakaiannya. Oleh karena itulah, mereka akan selalu menjaga kehidupannya sebaik mungkin, dan menjaga roh orang yang dianggap mati secara dunia sebaik mungkin pula. Roh orang tua mereka akan selalu hidup bersama dan mengawasi diri dan keluarganya. Jika mereka merestui, maka kebahagiaan pun akan didapat;
(v) Bila berbicara harus bisa menjaga mulut, jujur, dan saling menghormati. Bagi mereka, menjaga mulut berarti menjaga hidup. Berlaku jujur dan apa adanya berarti menjaga kebaikan terus berlaku. Demikian juga menghormati orang, berarti membawa ikatan sedulur sikep akan lestari dan diterima oleh banyak orang. Karenanya, bagi orang Samin, berdagang dilarang keras. Di dalam perdagangan terdapat unsur “ketidakjujuran”, dan bahkan sulit untuk menjaga mulut. Mereka pun tidak boleh menerima sumbangan dalam bentuk uang, karena dengan uang tersebut kejujurannya bisa saja terjual untuk kepentingan sesuatu.
Lima pokok ajaran Mbah Samin di atas masih tetap lestari, dan tetap memandu perilaku dan kehidupan wong sedulur sikep di pedesaan Blora dan Pati. Prinsip hidup sederhana dan apa adanya yang cenderung diangap kolot dan tradisional merupakan potret umum masyarakat Samin. Dengan anggapan itulah, Samin kemudian seringkali dikelompokkan sebagai kelompok suku terpencil dan terasing. Padahal cara hidup mereka itu adalah sebuah pilihan hidup ditengah kehidupan yang sering dianggap mereka memiliki risiko ketidakbenaran, ketidakjujuran, kesombongan, dan pengerusakan lingkungan alas semesta di sekitarnya. Cara hidup seperti ini pun dipraktikkan oleh masyarakat Badui di wilayah Lebak Kabupaten Banten, dan kelompok suku kampung Naga di Tasikmalaya. Sebagai sebuah pilihan hidup, mereka sesungguhnya memiliki jati diri luar biasa ditengah arus modernitas tiada ampun ini.
Dilemanya, pandangan hidup sedulur sikep di atas bolehlah sama, tetapi praktik hidup keseharian mereka pun mau tidak mau akan dihadapkan dengan pilihan-pilihan yang menawarkan kemudahan, berbiaya murah, dan sebagainya. Pilihan itu kerapkali ditawarkan oleh modernitas dengan teknologi-teknologi yang memudahkan kehidupan mereka. Dilema ini pun akan selalu menjadi hantu bergentayangan dari ketaatan mereka terhadap “jiwa zaman” sebagaimana yang diajarkan oleh guru dan pengikut lama ajarannya. Kini, “jiwa zaman” itu adalah teknologi, dan teknologi akan selalu mengancam kesederhanaan hidup mereka dan nilai-nilai tradisionalitas yang selama ini dipegangnya. Kini, teknologi itu bisa menggerus semua nilai kebersamaan hidupnya dengan lingkungan semesta alam sekitarnya. Kini, wong sikep pun dihadapkan dengan gelombong modernitas tak terampunkan derasnya.
Motor adalah teknologi yang melintas ruang dan memperpendek waktu. Pompa air adalah teknologi menghisap alam untuk memenuhi kebutuhan bukan semata minum. Handphone adalah teknologi yang menggapai jarak komunikasi dipersempit. Listrik pun akhirnya menjadi kebutuhan utama. Dengan listrik pula, ia menghadirkan berbagai tuntutan teknologi untuk meringankan beban kehidupannya. Dengan listrik pula, arcade-arcade peradaban modern harus hadir memenuhi nafsu memuaskan kenyamanan hidupnya.
Generasi tua wong sedulur sikep melarang, tetapi sekitarnya dipenuhi dengan panorama modernitas. Tanpa sadar pun mereka menikmati tawaran-tawaran kemudahan itu. Listrik tidak lagi akan dimaknai sebagi “jin yang mengagetkan” dan harus diusir dengan mantra-mantra penuh kesaktian. Ia pun akan diartikan sebagai “aliran hidup yang memudahkan” kehidupannya. Sementara yang muda, dari mencoba-coba menjadi ketagihan. Dari HP layar terinjak jempol sampai layar sentuh seutas jari pun menjadi cita-cita. Dari motor butut pembawa jerami dan gabah sampai motor trail bergaya mempesona perawan pun menjadi semangat hidup mencari nafkah tambahan. Teknologi menjadi hadir di sekitarnya. Nilai-nilai tradisionalitas dan kesederhanaan berada pada ambang batas kehidupan yang sulit dipertahankan kembali. Akhirnya, menyingkirkan diri dari kehidupan umum pada akhirnya berarti bukan sebuah pilihan yang didasarkan pada protes tentang keglamouran. Ia hanya akan diartikan ketidakmampuan mengikuti arus modernitas yang berada di sekitarnya.
Bertahan berarti hebat, hanyut berarti ketidakkonsistenan terhadap nilai sedulur sikep yang dipegangnya berlintas generasi lamanya. Dilema perubahan sosial seperti ini pun akan selalu hadir, bukan hanya pada komunitas sedulur sikep, tetapi juga pada komunitas-komunitas yang berusaha mengalienasi dirinya dari kehidupan umum yang dianggapnya menyalahi nilai-nilai suci kemanusiaan. Modernitas selalu menghantui kehidupan tradisionalitas mereka. Nilai-nilai tradisi yang diagungkan selama ini menjadi dipertanyakan oleh para pengikut generasi selanjutnya.
Kini, sulit rasanya untuk hidup menghidupi diri sendiri dengan berbagai karakternya. Hidup berarti pilihan untuk dihidupi oleh nilai-nilai kehidupan diri dan mau tidak mau harus menerima bingkai nilai kehidupan dari lainnya. Kearifan memaknai dan mempraktikkan tawaran kehidupan lain yang cenderung modern dengan nilai-nilai diri sedulur sikep merupakan prioritas utama dari proses pembelajaran wong sedulur sikep di masa kini dan di masa yang akan datang. Akhirnya, menjadi sedulur sikep yang lestari membumi, dan menempatkan modernitas pada tempatnya yang benar, adalah pilihan paling arif dalam menyongsong perubahan “jiwa zaman” kehidupannya. Semoga. @adhistessa.com
Tulisan ini didasarkan pada refleksi hasil perjalanan KKL di pedesaan sedulur sikep Blora.
· Wawancara dengan Bapak Salim, menjadi inti dari tulisan refleksi ini
· Observasi dari keadaan rumah dan permukiman, menjadi renungan mendalam atas dilema kehidupan orang Samin.

Komentar
Posting Komentar